Kutipan "Kata-Kata" Fiersa Besari


Fiersa Besari adalah penulis dan pemusik Indonesia. Sebagai penulis, Fiersa telah menghasilkan lima novel. Ia juga terlibat sebagai salah satu pendiri Komunitas Pecandu Buku.

Kutipan :

"Banyak-banyak baca buku. Agar tidak gampang menerima informasi mentah-mentah."

"Betapa jarangnya aku berterima kasih atas segala perjuanganmu untuk membesarkanku hingga aku bisa menjadi diriku hari ini."

"Debaran ini pertanda, bahwa di antara kita ada yang tidak biasa. Dalam diam, rasa hadir diam-diam."

"Kalau sampai tenggelam, cari jalan untuk naik ke permukaan. Kembali bernapas, lalu temukan daratan. Jangan sampai mengambang tak tentu arah."

"Ibuku sayang, di hari istimewamu, aku masih bingung harus memberi apa. Engkau yang selalu mensyukuri segala karunia-Nya, tidak pernah merasa berkekurangan meski di saat sulit."

"Nyatakan perasaan, hentikan penyesalan, maafkan kesalahan, tertawakan kenangan, kejar impian. Hidup terlalu singkat untuk dipakai meratap."

"Penolakan adalah hal biasa untuk menempa diri kita menjadi manusia luar biasa. Kalau apa-apa langsung diterima, apa asyiknya hidup ini?"

"Perasaan tidak pernah salah, tidak pernah bisa diatur. Cara menyikapi dan mengutarakannya yang menentukan apakah kita akan salah atau tidak."

"Sepertinya, aku terlalu sibuk membahagiakan diriku sendiri. Lantas, kapan aku akan membuktikan rasa sayangku padamu? Saat engkau sudah terllau tua? Saat engkau sakit-sakitan? Bagaimana jika aku terlambat?"

"Tidak perlu terlalu bergantung pada orang lain. Orang lain juga punya kepentingan masing-masing."

"Tunjukkan kegelapan dan aku bisa melihat cahaya. Tunjukkan semua keburukanmu dan aku masih bisa melihat kebaikan yang tersisa."

"Betapa banyak dari kita senang meributkan hal-hal kecil hingga terlupa akan gambaran besarnya."

"Dan aku selalu sibuk dengan ke-aku-anku, sementara kau selalu sibuk merindukanku."

"Diperhatikan oleh banyak orang itu memang keren. Tetapi, memperhatikan banyak hal itu jauh lebih keren."

"Jangan sampai terlalu sibuk menghidupi diri sendiri sampai lupa caranya menikmati hidup sendiri."

"Kau unik; satu-satunya di antara tujuh miliar manusia. Tidak perlu mengklasifikasikan sifatmu dalam batas zodiak atau golongan darah."

"Ketika saya kesal dengan perilaku warganet, saya kerap lupa bahwa saya pun warganet. Bisa saja, orang lain kesal dengan perilaku saya. Yang patut diingat adalah, jumlah followers yang banyak tidak menjadikan seseorang mahatahu. Dan anonimitas tidak menjadikan seseorang mahabenar."

"Sebaik-baiknya cendera mata, bukanlah yang indah dipajang di lemari, melainkan yang indah dikenang di hati."

"Selalu ada hari baru untuk setiap napas. Selalu ada kesempatan baru untuk kembali tersenyum. Patah hati tidak harus selamanya, kan?"

"Tapi, sehebat-hebatnya pengkritik, takkan berani mengkritik pasangan yang sedang sensi. Percayalah, saya sudah mencoba, dan hasilnya buruk."

"Tidak perlu menggali kalau tidak siap menghadapi."

"Ia sudah terbiasa menunduk, hingga lupa untuk menikmati langit yang kian merah."

"Duka perlu dipelihara, namun cukup seadanya. Agar kita tidak berhenti berkarya. Agar kita tidak lupa menjadi manusia."

"Jangan sampai bekerja, tapi malah dikerjain. Bermanfaat, tapi malah dimanfaatin."

"Kita butuh empati, lebih dari penghakiman. Butuh berbagi pendapat, lebih dari penghukuman. Butuh solusi, lebih dari sekadar kritik dan makian. Karena, yang lebih menyedihkan dari melihat seseorang yang berbuat kesalahan, adalah melihat orang-orang memaki seseorang yang berbuat kesalahan."

"Menyalahkan pengakuan orang lain itu mudah. Mengakui kesalahan sendiri itu yang sulit."

"Kau tahu, kan, ada yang sepandai itu menebar pesona, memberi harapan, membuat caption yang seolah-olah untukmu, membuatmu senyum-senyum sendiri. Jangan senang dulu. Siapa tahu, dia seperti itu ke banyak orang."

"Kesalahan kebanyakan orang adalah terlalu mempermasalahkan asal muasal yang berbeda, kemudian lupa menyamakan arah tujuan."

"Lain kali main ke hatimu, aku mau bawa spidol permanen supaya bisa menulis namaku di sana."

"Menamai, tapi lupa memaknai. Memenangkan, tapi enggan menenangkan. Mendewakan, tapi lupa saling mendewasakan. Mencintai, tapi gemar mengintai."

Pages : 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7

Komentar

Kutipan Terpopuler

Kutipan "Kata Bijak" Buddha

Kutipan "Kata-Kata" Chairil Anwar

Kutipan "Kata-Kata" Kurt Cobain

Kutipan Film - Spider-Man 2

Kutipan Film - Spiderman 2